Oleh: Lukman, Arek Jombang | 13 Januari 2009

Plus Minus Riset Khalayak bagi Radio

Selama 3 hari, dari tanggal 11 sampai 13 Desember 2008 lalu, saya mengikuti lokakarya “Menata Program Siaran Radio Swasta” periode kedua di Hotel Tanjung Surabaya. Lokakarya yang digelar oleh PD PRSSNI Jatim ini, periode pertamanya digelar, beberapa hari sebelum giliran radio yang saya wakili tiba. ‘Muka-muka’ lama orang radio masih mendominasi lokakarya ini, diantaranya Bapak Errol Jonathans-Direktur Operasional SS Media, Bapak Djoko Wahjono Tjahyo-Owner El Bayu Gresik, dan tidak biasanya pak Toyo-Bapak Soetojo Soekomihardjo-Owner & Presdir Suara Surabaya Media juga turut hadir (Ketiga pertama ini biasanya akrab disebut ‘tiga pendekar radio’).

Djoko - Soetojo - Errol

Djoko - Soetojo - Errol

Selain itu, ‘the new faces’ (bagi saya) Mas Rudi Hartono-Research dari Suara Surabaya Media, juga hadir Bapak Wahyu Widodo–Direktur Usaha Suara Surabaya Media yang juga putra dari Pak Toyo. Meskipun didominasi wajah lama, tapi wajah lama pun ternyata selalu ‘up date akan isu dan rumusan tentang dunia radio. Saat wajah baru mengungkapkan ‘fakta’ dan hasil riset dilapangan, wajah lama selalu meng’analisa, merumuskan dan menyampaikan solusi yang tepat dari hasil riset itu. Dan perpaduan antara wajah lama dan wajah baru inilah, yang selalu menarik bagi saya untuk terus mengikuti lokakarya ini.
Great, n we’re appreciate for that…!!
That’s behind the scene…!!
Sekarang, saya mengungkapkan ‘sebagian kecil’ dari apa yang saya peroleh dari acara loka karya ini.
Radio yang diakui sebagai media yang paling dekat dengan konsumen atau pendengarnya, saat ini tentu sedang berpikir keras, bagaimana meningkatkan porsi iklannya. Parahnya, yang tidak pernah disadari oleh radio (apalagi radio yang sudah terlanjur ‘over confidence’), sumber kelambanan kemajuan bisnis radio kebanyakan muncul dari dalam radio itu sendiri. Kadang sebagai orang radio, kita tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa ada atau bahkan banyak radio yang masih kabur dalam mengenali pendengarnya. Ada radio yang mengaku banyak pendengarnya, tapi pertanyaan berikutnya dari mana dia tahu kalau radionya banyak pendengarnya? dan kapan itu terjadi, jangan-jangan radio tersebut saat ini sudah ditinggalkan pendengarnya.
Perlu diingat, radio bersifat dinamis (baik itu ‘radio station’nya maupun ‘radio audience’nya). Padahal suatu keniscayaan, radio perlu lebih mengenali pendengarnya, sehingga bisa menjaga dan mengembangkan loyalitas pendengar, yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan pendapatan perolehan iklan. Bukankah calon pemasang iklan ingin sebuah media (radio) yang ‘jelas’ dan ‘pasti’ siapa pendengarnya. Dan yang lebih parah, pengiklan kadang lebih tahu dulu siapa pendengar dari sebuah radio, dengan melakukan riset yang kadang tidak dilakukan oleh radio itu sendiri. Dan kedepannya itu akan sangat merugikan radio tersebut. Karena oleh pengiklan, radio tersebut sudah dianggap data pendengarnya tidak valid atau bahkan mengada-ada. Celaka….!!
Nah, agar dapat mencapai gol / tujuan sebuah radio, maka dibutuhkan kepastian siapa dan seperti apa pendengar kita. Sementara, kepastian itu didapatkan dari sebuah riset (berikutnya:riset saya sebut sebagai riset khalayak). Sebagai dasar pemikiran, orang akan tertarik mendengar radio, apabila mereka bisa memperoleh program yang mereka inginkan. Dan sekali lagi, ini bisa didapat dari riset khalayak.
Akhirnya performa radio diukur melalui riset dan diterjemahkan melalui angka. Angka-angka hasil riset kemudian mampu menciptakan identitas pada sebuah radio, sebagai nomor yang terdepan atau nomor yang terbelakang. Jika sebuah radio mengaku diri sebagai radio yang memiliki banyak pendengar, dan kesemuanya mempunyai daya beli tinggi, maka pernyataan tersebut baru dapat dipercaya, bila hasil riset juga mencerminkan hal yang sama. Dengan demikian, riset telah menyisihkan pentingnya perbedaan antara fakta (dari riset) dengan imajinasi (dari insting).
Namun dalam menyikapi riset khalayak, reaksi radio tetap beragam. Sebagian skeptis, sebagian lagi hasil riset yang ada justru selalu membuat sebagian besar dari orang-orang radio (bahkan pemilik sebuah radio) kecewa. Ada juga yang menganggap riset khalayak itu penting, dan karenanya sudah dicoba untuk dijalankan. Sebagian lagi berpura-pura menganggapnya penting. Mereka enggan melakukannya dengan alasan tidak ada waktu, tidak ada sumber daya manusia yang memadai, tidak cukup uang dan sederet alasan lainnya. Perdebatan pun masih bisa berlanjut pada cara memandang hasil riset. Ada yang beranggapan, riset itu momok, yang mampu membunuh bila hasilnya tidak sesuai harapan. Banyak juga yang menganggap riset tak dapat dipercaya, dan bahkan ada yang ’alergi’ riset. ”Buruk rupa cermin dibelah”.
Hal ini dapat dimaklumi, karena riset memang potret kondisi sejati, yang justru sering dipahami sebagai bagian masalah daripada penyelesaian masalah dan lebih sering terasa menyakitkan daripada sebuah berita gembira. Yang paling penting, hasil riset bukan sebuah titik akhir, tapi sebagai kendaraan baru / pijakan untuk melangkah lagi. Dan disini diperlukan sebuah analisa dan evaluasi.
Penolakan terhadap hasil riset, menurut Pak Errol, cenderung muncul dari radio-radio yang berada pada peringkat non-10 Besar. Mereka khawatir publik tahu kalau radio-radio tersebut peringkatnya di luar 10 besar. Ini bisa berimplikasi pada kemerosotan iklannya.
Poose sama Pak Toyo

Poose sama Pak Toyo

Sementara menurut Pak Toyo, jumlah radio semakin banyak dan makin tersegmentasi. Bahkan, di kota-kota besar seperti di Surabaya, radio yang tersegmentasi sudah dijalankan. Dengan sendirinya, yang lebih relevan untuk menghitung peringkat adalah jumlah pendengar terbanyak (ingat) berdasarkan masing-masing target pendengarnya. Dulu, peringkat hanya dibuat berdasarkan jumlah pendengar terbesar saja. Sekarang, itu tidak cocok lagi. Kini, sebagian radio, utamanya di kota-kota besar, sudah punya segmen pendengar sendiri-sendiri. Segmentasi dilakukan untuk memenuhi tuntutan pasar. Segmentasi diperlukan untuk diferensiasi. Dan tidak menutup kemungkinan, di daerah akan terjadi hal yang serupa, karena sekali lagi jumlah radio yang semakin banyak.
Radio M97 Jakarta misalnya (stasiun radio rock klasik, yang mengambil segmen usia 20 -45 dengan SES AB), tidak akan mungkin ada di peringkat pertama dalam survei yang mengukur jumlah pendengar radio secara umum (dari usia 10-60 tahun, all-SES, all-sex). Kenapa? Karena jumlah pendengar rock klasik, sebagian besar adalah pria, sedangkan jumlah pria lebih sedikit dibanding wanita. Demikian juga dengan kelompok SES-AB. Populasi dengan SES-CDE lebih banyak dibanding dengan SES-AB. Kalau pengukuran peringkat dilakukan secara umum, tentu M97 tidak akan pernah ada berada di peringkat teratas. Tapi kalau pengukuran peringkatnya didasarkan pada target audience-nya, bisa jadi M97 ada di posisi teratas untuk kelompok umur 20 – 45, pria, SES-AB. Kalau dihubungkan dengan produk, tentu target audience ini jadi target konsumen bagi produk mobil, misalnya. Jadi, pengukuran berdasarkan target audience cocok untuk mengukur ketepatan segmentasi bagi pengelola radio, sekaligus cocok dan dibutuhkan bagi produsen / pengiklan.
Artinya, saat pengiklan dan perusahaan periklanan membicarakan target konsumen, mereka tidak membicarakan peringkat. Setiap produk, targetnya tentu beda. Meskipun ada hubungan secara proses, target konsumen dari produk bahan bangunan, tentu sangat berbeda dengan produk properti maupun apartemen, misalnya. Sehingga, radio yang paling banyak mempunyai pendengar dengan karakteristik sesuai dengan target konsumen-lah, yang akan dijadikan media iklannya.
Dan bagi saya, riset justru akan lebih banyak dapat dimanfaatkan untuk membantu pengiklan ‘menemukan’ media iklan (radio), yang bisa jadi ternyata memiliki potensi sekaligus efektif.
Kesimpulannya, dari data yang didapat melalui riset khalayak, setelah dianalisis akan menjadi informasi atau laporan riset. Informasi riset sangat penting dan berguna untuk dimanfaatkan. Informasi atau hasil riset khalayak pun sangat berguna bagi radio, tinggal bagaimana radio itu mampu memanfaatkan hasil riset khalayak tersebut, misalnya untuk menciptakan program radio yang betul-betul baru, atau merevisi sebuah program radio yang sudah ada. Yang harus dikerjakan, data riset khalayak (ditambah-jika ada-dari BPS) di’kawin’kan dengan visi dan misi radio, akan menghasilkan program yang dibutuhkan pendengar, bahkan pendengar potensial radio. Apakah program itu menarik atau belum dan apakah program itu mampu untuk dijual atau tidak, evaluasi itupun akan kembali ke riset khalayak. Dan ingat, program itupun nantinya, akan begantung pada ’policy’ dari owner atau para pemegang saham.
Jadi…..,?!?!?!?!

Baca juga :

Kondisi Radio Sekarang Apa Seperti ini ?
Radio Berbicara Tentang Kompetitor
Radio, Survey Penting Gak Sih ?

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 5 Januari 2009

Karyawan baru ‘penyumbang’ perusahaan tempatnya bekerja

Pernah tidak anda ’diharuskan’ mengganti uang perusahaan, yang dituduhkan pada anda, telah anda gelapkan, padahal anda tidak melakukan hal itu?
Kalau hanya mengganti sekali sebanyak di bawah gaji bulanan, mungkin tidak akan jadi masalah. Tapi kalau harus mengganti lebih dari 20 kali (dulu 14 kali, karena yang harus diganti bertambah lagi) sebanyak gaji bulanan. Itu sih kerja bakti selama hampir dua tahun, atau sama artinya dengan bekerja selama 2 tahun tanpa digaji. Anda mau seperti itu?
1. Ada pertanyaan, kenapa hal itu sampai terjadi?
A yang bekerja dalam sebuah tim dengan B dan C-jabatannya satu level diatas A dan B- di sebuah perusahaan X. A sehari-harinya membuat pengajuan dan pelaporan tapi tetap melalui persetujuan C. Pada suatu ketika, A merekap laporan dari 6 bulan yang lalu sampai sekarang. Tapi dia terkejut, karena ada selisih yang baginya sangat besar (lebih dari 10 juta rupiah, bahkan bertambah lagi 4 juta menjadi 14 juta rupiah) antara laporan dengan nota-nota transaksi.
2. Sesudah enam bulan kenapa baru sekarang dilaporkan?
Untuk melaporkan, A juga harus menunggu nota yang dibawa oleh C. Padahal saat A meminta nota, C selalu beralasan ’ya nanti aku kasih’ atau yang lebih parah ’untuk yang itu, langsung dibayar big boss’ padahal kenyataanya tidak jelas bahkan tidak seperti itu.
3. Kalau Cuma seperti itu, kenapa sampai selisih banyak?
Setelah dirunut oleh A, mulai dari pengajuan yang dibuat oleh si A dan versi si C dan juga dari laporan yang dibuat si A dan versi si C, ternyata ada banyak selisih. Dan bisa dikatakan ada indikasi, C ’bermain-main angka’.
4. Kenapa bisa mengatakan seperti itu?
Dalam membuat pengajuan, A meminta persetujuan C-yang notabene satu level diatasnya. Dan dari situ, C tanpa sepengetahuan A membuat pengajuan yang lain untuk diajukan ke ’big boss’ yang nilai dananya diatas yang dibuat A. (Dalam hal ini, pengajuan yang diterima ’big boss’, hanya yang ada tanda tangannya si C saja, karena A secara job discription tidak ada hak untuk ikut menanda tangani). Tapi setelah dana turun dari ’big boss’ sebesar pengajuan si C tadi, oleh C pengajuan yang dibuat A tadi diberikan lagi ke A dengan dana sebesar yang diajukan A. Selisih dana antara hasil pengajuan yang dibuat si C dan si A, anda tentu tahu sendiri masuk kemana dana selisihnya?.
Setelah semua berjalan, saatnya membuat laporan.
A membuat laporan dan terkejut, disamping karena pada point 1 dan 2 diatas, ternyata selisih semakin banyak. Itu terjadi, karena tanpa sepengetahuan si A, C juga membuat laporan dengan memalsukan tanda tangan si A untuk ditagihkan ke si A. (Kenapa ada indikasi pemalsuan, karena A merasa tidak pernah menanda tangani laporan seperti apa yang diajukan si C). Parahnya, laporan yang dibuat C, sisanya lebih besar dari laporan yang dibuat A dengan sebenarnya-sesuai nota. Sehingga otomatis, seolah-olah selisihnya tadi dipakai oleh si A padahal tidak dipakai sama sekali. Jadi intinya, ada 2 laporan yang ada didepan si A (pertama dari si A sendiri dan kedua dari si C-yang memalsukan tanda tangan si A). Dan laporan yang diserahkan beserta sisa dananya ke ’big boss’, tentu saja laporan yang dibuat si C, karena si C sekali lagi struktural pekerjaannya satu level diatas A. Artinya, yang ditandatangani ole si C tentu saja laporan yang dibuat si C untuk diserahkan ke ’big boss’.
5. Trus si A bagaimana?
A tidak bisa berbuat banyak, karena didepan atasan-satu level dibawah ‘big boss’- C sudah mencari ‘aman’, dan si A tidak ada bukti untuk itu semua. Alhasil, dia harus mengganti sisa dana yang bagi dia begitu banyak (dari 10 juta rupiah menjadi 14 juta rupiah) dan parahnya itu harus sudah ada untuk dilaporkan ke ‘big boss’ 2 hari lagi.
6. Memangnya si A tidak mampu mengatasi situasi seperti ini?
Perlu diketahui, si A merupakan anak dari pasangan buruh tani yang tidak bisa berbuat banyak dan A baru bekerja di perusahaan X. Dan gajinya pun tujuh ratus ribu rupiah. Dengan segala daya dan upaya, selama 2 hari dia harus mampu mengumpulkan uang tunai 10 juta rupiah lebih. Tapi alhamdulillah, A dapat pinjaman hingga total 10 juta rupiah lebih dari orang-orang yang malah jauh dari perkiraan si A untuk dapat membantu dia.
Dan baru-baru ini laporan terakhirnya, dia harus mengganti lagi sebasar 4 juta rupiah, dan harus kembali dalam 24 jam. A pun dibuat kelimpungan dan bingung harus bagaimana. Tapi sekali lagi, dengan berbagai jaminan dan lobi dari teman-teman yang ’peduli’ sama dia, dia akhirnya mendapat pinjaman, tanpa tahu bagaimana A harus mengembalikan pinjamannya. Butuh waktu bertahun-tahun bekerja untuk mengembalikan uang yang dia pinjam.
A mendapat pinjaman dari orang-orang diluar kantornya yang ’care’ sama si A. Yang membuat A sedikit sayang dan bertanya-tanya, kenapa teman-teman sekantornya yang selama ini selalu dia bantu, malah tidak ada yang peduli. Si B dan si C yang notabene satu divisi / tim dengan si A tidak ada yang membantu bagaimana solusi terbaiknya. Yang A harapkan, meskipun teman-teman sekantornya tidak memberikan pinjaman, paling tidak menanyakan ’gimana sudah dapat pinjaman?’ atau menyapa si A. Ini tidak, disaat A terkena ’musibah’ ini, semua teman-teman sekantornya malah ’menjauh’ dari si A, seolah-olah kalau dekat dengan si A, nanti duitnya akan dipinjam dan lain sebagainya. Bukan teman yang sejati memang….!!!
Sekarang, si A harus terus bekerja di perusahaan X untuk gajinya dapat membayar pinjaman dari teman-teman diluar perusahaannya. Dengan gaji 7 ratus ribu, paling tidak selama hampir 2 tahun gaji si A harus melayang dan tidak bisa dinikmatinya, karena untuk mengganti sesuatu yang tidak seharusnya dia ganti. Bahkan bisa lebih dari 2 tahun, apa si A tidak perlu untuk makan, bayar kos dan kebutuhan pokok sehari-hari lainnya.
Ini sih, sama artinya bekerja tanpa digaji alias kerja bakti selama 2 tahun bahkan bisa lebih…. Yang membuat salut, meskipun kepala pusing dan dibuat linglung, A dengan sabar dan bijak berkata, ”kalau memang aku yang salah, aku ikhlas dengan semua ini. Tapi kalau ini bukan salahku, biarlah semua aku serahkan pada Alloh, aku yakin Alloh tidak pernah tidur dan malah mampu ’menidurkan hambanya’. Semua aku serahkan pada-Nya, biarlah Dia yang berkehendak terhadap apa yang aku alami. Toh saya hanya manusia biasa, ada yang lebih dari pada saya dan semua yang dijagad raya ini. Hanya Dia yang akan memberikan keadilan pada saya. Biarpun tidak diperlihatkan didunia, paling tidak di akhirat, pasti saya dapatkan”.
Luar biasa, terlepas dari (mungkin) keteledoran atau kekurang telitian A, karyawan baru (A) mampu ’menyumbang’ perusahaannya (X) sebesar 14 juta rupiah dalam waktu 2 hari, daripada karyawan lama (seperti B dan C) yang tidak pernah ’menyumbang’ (karena satu tim), bahkan menjadi pencuri dan pecundang di perusahaan X (terlepas dari C dan B yang lebih senior dari A). Dilingkungan perusahaan X, sedikit yang mengetahui kejadian sebenarnya / ‘kebenaran’ yang menimpa A, dan parahnya banyak yang sudah mem’vonis’ kalau A benar-benar salah (menggelapkan / nilep uang perusahaan), sehingga sedikit demi sedikit mereka ‘menjauh / jaga jarak’ dari A. Ironis memang….., tapi yang di atas tentu tidak tidur dan tutup mata.
Saya jadi ingat dengan pesan ustadz, do’a orang yang teraniaya dan ter’dholimi’ insyaalloh dikabulkan oleh Alloh. Ya s’moga, didalam hati dan benak si A, tidak sampai keluar do’a yang jelek / energi negatif yang akan keluar dari dia. Kalau sampai keluar, na’udzubillah mindzalik….!!! (Tidak bisa dibayangkan adzab-Nya, baik yang diperlihatkan di dunia atau yang akan dibalaskan di akhirat kelak)

Semoga cerita nyata ini, minimal menjadi renungan dan pelajaran buat kita semua untuk selalu berhati-hati dan teliti. Dan semoga yang berbuat ’dholim’ dan licik di muka bumi ini, diberi kesadaran dan bimbingan-Nya, serta yang di ’dholimi’ diberi kesabaran dan hikmah yang luar biasa baginya, dibalik semua peristiwa yang telah dialaminya.
Amin……….

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 15 Desember 2008

Rafting, Aaarrggggghhhhh……!!!!!

Aku dan timku, aku yang mulutnya paling lebar, hwahaha....

Aku dan timku, aku yang mulutnya paling lebar, hwahaha....

Tanggal 30 November 2008, kurang dari jam 4 dinihari, aku dan teman-teman sekantor dengan memakai 3 mobil, kita berangkat ke Probolinggo untuk menikmati petualangan rafting di Songa kecamatan Pasogading kabupaten Probolinggo.
Perjalanan jauh dan lama yang mengakibatkan saya (dan mungkin juga sebagian teman-teman saya) merasa capek seketika hilang, ketika rombongan kru dan management radio patria blitar sampai di Songa Adventures.
Ini pengalaman pertama bagi saya dan teman-teman saya untuk ber’arung jeram mengarungi aliran sungai Pekalen. Aaaarggghhh…!!!
Saya juga sempar berbincang-bincang dengan mas Paidi (di foto atas, pake’ baju merah paling belakang). Mas Paidi merupakan satu diantara puluhan ‘guide’ di Songa Rafting Adventures yang start point-nya ada di desa Pesawahan dan finish point-nya ada di desa Condong kecamatan Gading kabupaten Probolinggo mengaku, kalau Rafting merupakan olahraga spektakuler yang hanya bagi orang yang pemberani. Bagi para calon pe’rafting yang ingin ikut, diharuskan berusia minimal 10 tahun sampai dengan tak terhingga asalkan sehat. Oleh para guide, ditanya juga sanggup apa tidak dengan perjalanan rafting yang panjang dan menantang itu??. Sementara bagi yang tidak bisa berenang mas Paidi menjelaskan, kalau bisa berenang atau tidaknya perafting, tidak menjadi masalah. Karena oleh penyedia layanan rafting, sudah disediakan pelampung yang kata Mas Paidi mampu membawa berat tubuh maksimal 100 kilogram untuk mengambang diatas permukaan air. Selain mewajibkan perafting menggunakan pelampung, perafting juga diwajibkan untuk menggunakan helm pengaman yang juga sudah disediakan oleh penyedia layanan rafting. Helm ini berguna untuk melindungi kepala jika kepala terjadi benturan dengan batu-batu yang ada disungai, atau bahkan dengan dayung dari teman satu perahu yang mendayungnya kadang kala masih tidak beraturan atau tidak terarah. Kalau sekali sudah merasakan bagaimana nikmat dan asyiknya rafting, dijamin anda bakal ingin menikmatinya lagi.
Coba aja….?!?!?!?

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 15 September 2008

Puasa Romadlon…

Puasa di bulan Romadlon, apa yang didapat?. Banyak, tergantung dari niatan dan dari sisi mana kita memandang manfaat dari puasa yang telah kita kerjakan?.

Sekedar gugur kewajiban sajakah?, sekedar agar mendapat nilai bagus dari guru kitakah?, sekedar ’latah tradisi’ sajakah?, karena kita hanya takut kepada orang tua kita yang dari dulu menanamkan kita akan tradisi ’wajib’ berpuasa Romadlon?, mungkin juga untuk mendapat ketentraman, kedamaian dan kelembutan hati dengan berpuasa?, ataukah memang betul-betul ingin mendapat ridlo-Nya agar kita menjadi manusia yang bertaqwa, menjalankan kewajiban dan menjauhi segala larangan-Nya dengan berpuasa di bulan Romadlon, seperti kaum-kaum terdahulu?.

Kalimat terakhir, sangat sulit dan susah memang dalam menjalankan dan mejauhi larangan-Nya. Jangankan membuang jauh-jauh segala larangan, kita pun kadang tidak mampu melawan, saat ’dia’ mendekat ke kita. Sering kita dengar istilah-istilah : ’Puasa jalan maksiat jalan’, ’puasa kan bulannya saja’, ’puasa sudah sholat belum’ dan lain sebagainya… Seorang ustadz mengibaratkan orang yang berpuasa, tapi sholat kadang masih belum sempurna atau hal-hal yang buruk masih dikerjakan di bulan puasa, dengan kalimat ’kita ini sudah mamakai baju, tapi kita belum memakai celana alias telanjang’. Apakah kita seperti itu?, atau mungkinkah kita belum memperoleh hakikat ’suci’ untuk mencapai ’fitrah’ dihari kemenangan ’idul fitri’ nanti, dari kata-kata yang sering kita dengar atau lihat : bulan suci Romadlon.

Ada hal yang patut kita renungkan juga. Adakah kelembutan muncul di dalam hati kita?. Seperti apakah hati kita?.

”Ada seorang pengusaha muda yang amat taat menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah agama. Di sore hari, dia keluar dari kantornya, sesaat untuk sebuah kepentingan kecil. Tiba-tiba di depan kantornya ada seorang pengemis tua. Dan pengemis tua itu mengatakan, ”Tuan kasihanilah saya, berilah saya sepotong makanan atau sekeping uang tuan,” pinta sang pengemis. Sang Pengusaha yang dipanggil tuan itu lalu merogoh sakunya, ’barangkali’ ada uang atau sepotong makanan di saku, karena dia memang keluar untuk kepentingan kecil. Tapi, setelah dia merogoh tidak menemukan apa-apa, maka sang pengusaha itu kemudian berkata, ”Aduh mohon maaf saudaraku, mohon maaf hari ini saya tidak bisa memberimu apa-apa.” Lalu pengemis itu berkata, ”Tuan, itu sudah cukup tuan.” Tentu saja sang pengusaha itu kaget, karena dia merasa belum memberi apa-apa, tetapi sang pengemis kemudian mengatakan, ”Tuan itu sudah cukup.” Ketika ditanya, ”Mengapa engkau mengatakan sudah cukup?”, Pengemis tua itu mengatakan, ”Tuan, seharian saya mengemis di depan kantor tuan ini, tapi hanya tuanlah yang mau memanggil dan menghargai saya dengan panggilan saudaraku.”

Di bulan puasa Romadlon, adakah kita semakin lembut? Adakah kita semakin dekat dengan sesama?.

Tanya kenapa????

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 12 Juli 2008

Radio : Survey penting gak sih ?? (Part 3 – Habis)

Pertanyaan yang lain,
“Tapi mas dHanY pernah survey pendengar gitu gak sich?, at least you know what they wanted?? Perubahan beberapa acara pasti menimbulkan banyak complaint tuh, ya kaaan?? Pesan : jadikan materi acara itu sebagai ujung tombak, gak cuma sebagai simbol aja yang asal on-air, iklan banyak, durasi pas, terus selesai gitu aja tanpa suatu yang ‘waah’. understood kn?, hehe… “
Survey??, of course…. Survey / riset sangat penting bagi proses kelanjutan sebuah media, karena sekali lagi, media (termasuk radio) harus bersifat dinamis, fleksibel dan tidak malah statis. Justru dari survey yang dilakukan sebuah lembaga survey terpercaya, Patria melakukan itu. Kalau ‘complaint’ tentu menjadi hal yang wajar. Setelah diambil keputusan, pro dan kontra menjadi hal yang wajar dan dibenarkan. Kenaikan BBM saja sampai sekarang masih ada yang pro & kontra. Tapi (bagi Patria / aku maksutnya, aku kan tidak berhak untuk berbicara atas nama Patria, I’m just announcer), seberapa persen sih pendengar yang pro dan yang kontra??, seberapa persen sih yang aktif mendengarkan dan yang tidak aktif mendengarkan?? (perlu dicatat: aktif mendengarkan, belum tentu aktif bergabung / on air – baik SMS ato telpon -. Demikian sebaliknya, yang sering on air / bergabung, semuanya juga belum tentu aktif menjadi pendengar Patria). Bahkan, ma’af dari survey yg dilakukan, pendengar pasif justru lebih sangat banyak dari pendengar aktifnya. Pendengar yang bergabung on air di Patria (SMS atau telpon) itu tidak semuanya sedang mendengarkan Patria saat on air. Misalnya : Saat yang siaran si A & si B, tapi banyak SMS yang menyebut penyiarnya saat itu si A & si D (karena saat B libur, D yang siaran). Itu terlepas dari kebiasaan penyebutan penyiarnya. Ada juga yang saat telpon, sebelum on air yang diterima ‘gate keeper’, penelpon malah tanya ke penerima telpon ‘acaranya sekarang apa mas..?’, padahal jelas2 nama acaranya sudah begitu lama melekat di jam tersebut. (Kalau seperti ini jangan sampai penelponnya sudah ‘terlanjur’ mengudara, begitu ‘goblok’nya penyiar & gate keepernya kalau sudah terlanjur mengudara). Ada juga yang saat memutar lagu – lagu Indonesia Hits, ada penelpon / SMS yang request lagu macanegara misalnya. Lho yok opo seh iki…?, Seperti itu…!!
Bagi aku sendiri, ‘tidak semua pendengar yg complaint itu’ manjadi acuan / parameter sebuah keputusan, meskipun kadang dipakai sebagai parameter, (terlepas dari Hak Management untuk mengambil keputusan). Karena management Patria sendiri sudah punya Dept. Riset sendiri, yang akan terjun ke masyarakat secara langsung, rahasia dan independent.
(Bukannya sombong), hasil Survey yang dilakukan salah satu lembaga riset, periode tahun 2007 sampai semester awal 2008, Radio Patria Blitar menjadi Radio yang banyak didengarkan (tahun lalu juga), menjadi Radio dengan perolehan iklan terbanyak & termahal (tahun lalu juga), menjadi radio dimana penyiarnya banyak didengarkan.
Trussss…..

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 12 Juli 2008

Radio berbicara tentang ‘Kompetitor’ (Part 2)

Ada tanggapan / pertanyaan lagi yang lain,
“Bukannya perubahan dan penyesuaian yang dibuat Patria itu bersifat ‘mundur’ atau dengan kata lain ‘nrimo aja’ saingan dari kompetitor. Apa tidak sebaiknya Patria harus ‘survive, fight and ready for their competitor ?”
Aku mungkin bisa menggambarkan (Anggap saja pendengar atau pengiklan radio ibarat kue). Sepotong kue dengan ukuran yang sama dari tahun ke tahun (bahkan bisa berkurang, karena satu kue yang awalnya untuk radio, kadang masih dibagi lagi / dikurangi untuk TV misalnya). Nah satu kue untuk radio yang dulu dipotong sekitar 5 radio, sekarang harus dipotong dengan lebih dari 10 radio. Tentu porsinya akan semakin kecil. Nah dari yang kecil itu, Patria harus men’rawat’ kue itu, atau bahkan kalau bisa ‘mengambil dengan bijak’ porsi yang lain. Tentu, sadar atau tidak sadar, hal itu sudah membawa ke sebuah kompetisi yang harus ‘dimenangkan’ oleh Patria.
Oke, kata ‘mundur / nrimo’. Bisa juga sih (kalo’ memang mundur seperti apa yang dianggap pendengar), kalau mundurnya itu untuk ‘start’ agar loncatannya lebih jauh lagi, menurut aku tidak masalah. Orang kalau mau melompat / meloncat lebih jauh lagi, biasanya harus mundur ‘untuk start’ beberapa langkah kebelakang. Dan bisa jadi ‘pemikiran’ ini yang dipakai Management Patria. Pada dasarnya, tidak ada sebuah media (radio) yang ingin mengalami kemunduran. Koran ingin pembacanya banyak, TV ingin penontonnya banyak, radio tentu juga ingin pendengarnya banyak. Nah, dari ‘parameter’ yang banyak – banyak tadi (pembaca, penonton dan pendengar) ini akan menjadi ‘gula’ bagi para ‘semut’ / calon pengiklan ke media. Dengan kata lain, pencapaian pendengar di radio akan berbanding lurus dengan perolehan iklan di radio. Calon pengiklan radio tentu ingin produknya dikenal banyak orang (untuk produk baru), ingin melekat, mengingatkan, menajamkan ‘brand’ dan agar selalu ada dalam ‘hati’ pendengar (untuk produk yang sudah lama dikenal orang) dan seterusnya. Meskipun kadang ada juga calon pengiklan yang ingin produknya dikenal oleh pendengar tertentu. Kalau sudah berbicara tentang iklan, tentu akan semakin panjang. Paling tidak komentar / pertanyaan tadi sudah aku tanggapi.

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 12 Juli 2008

Kondisi radio sekarang, apa seperti ini ??? (Part 1)

Ada beberapa orang / pendengar Patria yang tanya ke aku (salah satu penyiar Patria), dan aku coba ‘tuangkan disini (tentu kapasitasku sebagai penyiar yang masih sedikit ‘jam terbangnya’ :
“mas dHanY, kenapa Patria (Radio Patria) sekarang sepi sekali ya???, pendengar (audience) yang main ke studio sudah tidak seramai yang dulu lagi ya???”.
Menurut aku, Patria boleh dibilang memang ‘jauh’ seperti (minimal) waktu aku baru masuk di Patria (tahun 2003). Ada banyak hal yg bisa dijadikan alasan, kenapa sekarang jadi seperti ini (sebenarnya bukan hanya di Patria, karena di radio lain pun sudah seperti itu). Alasan :
1. Radio di Blitar sekarang ini bukan cuma Patria doank bung…., di Blitar sendiri radio yang menjadi anggota PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional) ada 3 (Mayangkara, Istana dan Patria), belum lagi radio pemerintah setempat (Persada – untuk Pemkab dan Mahardika – untuk Pemkot). Ditambah lagi radio (maaf) liar / komunitas, belum lagi radio luar Blitar, yang bisa diterima radio receiver di Blitar. Belum lagi radio luar Blitar, yang bisa didengarkan melalui internet (Live Streaming / Radio On Line / Radio On Demand), meskipun pendengar untuk radio yang ini di Blitar lingkupnya kecil (untuk saat ini). (itu yang dari ’secuil’ radio / dari sisi on airnya saja / diluar non air – Event).
2. Selain radio, (tidak bisa dipungkiri) TV juga telah mampu ‘mengambil’ pendengar radio (semua radio, bukan Patria saja). Dari program musiknya yang dikemas sedemikian menariknya, program Reality Show – nya, belum dari movie – nya (malah ada yg double movie / double bioskop), belum kuis dan acara – acara TV lainnya. Belum lagi TV langganan, meskipun saat ini lingkupnya masih tidak terlalu besar.
3. Dari segi masyarakatnya pun sekarang, antusiasnya pada radio tidak bisa disamakan dengan waktu dulu. Tidak bisa dipungkiri, sekarang orang sudah ‘pusing’ memikirkan naiknya harga BBM (misalnya), karena hal ini otomatis akan berdampak pada setiap sendi – sendi masyarakat. Sekarang ini disaat krisis energi dan krisis yang lain, radio masih tetap didengarkan saja, sudah bagus.
Itu beberapa alasan yang menurut aku paling kentara dipermukaan. (belum lagi yang lain – lain). Meskipun, radio (dalam hal ini Patria sendiri) juga harus ‘correct’ kedalam. Jadi Patria tidak sibuk untuk mencari alasan / ‘kambing hitam’, karena ada atau tidak ada alasan – alasan itu, toh Patria harus tetap jalan sebagai salah satu media elektronik yang harus mengudara dan tetap berkompetisi secara sehat serta tumbuh secara sehat.
Nah dari itu semua, menjadi keharusan Pihak Management Patria untuk terus memperbarui ’strategi’. Salah satunya (mungkin yang diambil Management), yang mengatur ‘inilah – itulah’, sehingga membuat sebagian yang didalamnya (tidak perlu disebut disini) mengaku kurang puas, tidak cocok, kecewa dan selalu mengeluh (mengeluh keteman dilingkup kerja, tentu tidak masalah, karena bisa mencari solusi yang terbaik untuk menyikapi apa yang telah diputuskan Management. Tapi mengeluh diluar…???, meskipun kadang ada yang ‘klimaks’ kalau sudah di’brol’ ke orang lain, bisa dipercaya??). Tentu sebagai bagian dari perusahaan dan adanya aturan dari perusahaan yang bersangkutan, (kalau masih mau menjadi bagian dari aturan itu), yang ‘inilah – itulah tadi, tentu menjadi ‘keharusan’ / mutlak / harga mati bagi yg didalamnya (terlepas dari suka / tidak suka, senang / tidak senang). Keegoan dan idealisme pribadi harus di kesampingkan untuk radio, karena radio kerja tim, bukan kerja perorangan. Meskipun masing – masing individu mengerjakan sesuai dengan job discription masing – masing, tapi pada intinya semua ada keterkaitan, saling bersinergi dan berkesinambungan dengan individu yang lain dalam sebuah ‘radio station’.
Bagaimana dengan tempat anda???

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 5 Januari 2008

Ngga’ cuman kerja keras, tapi bikin ‘cerdas’

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan ‘pekerjaan anda adalah mata rantai dari sebuah untaian butir pengalaman, yang membentuk keseluruhan karir Anda.
Nah, menurut saya (dari apa yang memang sudah saya lalui), ternyata apapun yang kita kerjakan kemarin (apa pun hasilnya, baik ato buruk) adalah bagian penting dari awal upaya kita hari ini, untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Dengan konsep yang sama, apa pun hasil dari upaya kita hari ini, adalah input  atau masukan untuk perbaikan bagi proses kerja kita esok hari.

Menurut saya, kita tidak akan mungkin tumbuh ‘menguat’ dan ‘membesar’, tanpa pengamatan ato evaluasi yang jujur (ingat, jujur pada hati nurani kita, jiiieeehhh….) atas keefektifan proses kerja kita yang sudah kita lakukan selama ini.

Maka kita harus memastikan, bahwa setiap pekerjaan yang kita tangani, menjadi sebuah mata rantai, yang rancangannya akan membentuk sebuah keutuhan, untuk ‘meninggikan kita’ di kemudian hari.
Bukankah sudah jelas, mengapa tidak ada masa depan bagi mereka yang hanya bekerja secukupnya?.
Bukankah mereka yang bekerja keras pun, belum tentu mencapai apa yang mereka cita-citakan?.
Maka yang kita perlukan sekarang ini, adalah ketepatan cara kerja atau proses yang ‘terperbaiki’ setiap hari, yang akan membuat kita tidak hanya bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas.

What about U….???

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 11 Desember 2007

Kuantitas vs Kualitas

Saya ambil contoh musisi besar dunia, Elvis Presley. Elvis Aaron Presley (yang kemudian akrab dengan Elvis Presley), lahir pada tanggal 8 Januari 1935 di East Tupelo, Mississippi, dari pasangan Vernon dan Gladys Love Smith (kedua – duanya saya nggak kenal tuh, soale kalo’ Elvis, Saya kan dah kenalan waktu Elvis manggung bareng ma Inul ‘ratu ngebor di pantai ria kenjeran….! Heh, maksudnya…..???? C-D, capek deh, hehehe…).

Yang saya tahu, Elvis sendiri tumbuh besar di Memphis, Tennessee dan mulai bermain gitar, dan bermain di beberapa acara di pusat-pusat perbelanjaan (emang hari gitu dah ada mall…?, mungkin semacam pasar gitu kali ya…? Au’ah gelap…!). Dan tau ga’ sih, saat duduk di bangku sekolah menengah, ia bekerja menjadi supir truk bagi sebuah perusahaan listrik (jangan dibayangkan truk waktu itu, sama dengan truk jaman sekarang….!,trus kayak apa dong truknya…, aq juga ga’ tau, secara tahun 1935, Saya kan belum lahir… Jangankan Saya, ibu aja belum lahir).

Siapapun tau, Penyanyi rock ‘n’ roll legendaris Amerika Serikat yang satu ini (dari mata pandang saya sebagai orang muda – masih 17 tahun bo’, …. Tuh kan gak percaya…!) memang luar biasa, bayangin nggak cuma di Amrik aja, bahkan sampai keseluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia….., bahkan seorang penyanyi dangdut kenamaan tanah air seperti A. Rafiq-pun men’duplicate gaya Elvis mulai dari ujung rambut pe’ ujung kaki.

Sampai Elvis meninggal dunia pun, pada tanggal 16 Agustus 1977 pun, mulai dari gaya sampai karya seninya (musik, film dll)… oh ya, deretan wanita ‘pendamping-nya pun selalu bikin dunia (termasuk Indonesia) heboh.

Pertanyaannya (eh, kayak tes aja, hehe…):

Dari tahun ke tahun, kenapa mulai dari style ato gaya pe’ musik-nya Elvis begitu melegenda, bukan hanya di negara kelahirannya, Amrik, tapi juga diseluruh dunia (termasuk Indonesia) ?

Tapi penyanyi2 Indonesia sekarang, karya musik (lagunya) seiring begitu cepat populernya sebuah lagu, kenapa begitu cepat juga ‘hilang dari ingatan penikmat musik Indonesia ?. Ini karena terlalu banyaknya karya musik (lagu) ato emang karena mutu dari karya musik itu sendiri yang ‘standart aja ?.

Dengan kata lain, kuantitas sebuah karya musik (lagu) apa bisa jadi alasan baik tidaknya kualitas sebuah karya musik (lagu) itu sendiri ?

Yaaach……., Saya berharap satu, dua, sepuluh tahun atau bahkan beberapa taun kedepan (tapi jangan lama2, keburu saya dipanggil ma Dia), ada musisi yang lahir dan besar di Mojojejer Mojowarno ato Peterongan Jombang ato dari belahan Indonesia yang lain, karya musik (lagunya) bisa terkenal atau bahkan me’legenda sampai di Winnipack Kanada, di Mainz Germany, di Seattle Amrik dan dimana2 diseluruh penjuru dunia……

Who knows…., everything is possible, that’s right….?

Oleh: Lukman, Arek Jombang | 11 Desember 2007

Katak dalam tempurung

(pertanyaan dibenak saya), apa enaknya jadi penyiar ‘kondang’ di kota kecil?, meski siarannya ada disebuah radio yang terfavorit plus besar dan paling banyak audience-nya (bisa dibuktikan dari survey yang dilakukan tiap tahun). Bukan cuma dari segi pendengar, dari ‘income-nya pun sebenarnya sudah ‘ok’, jauh diatas UMK kota ‘kecil yang dimaksud.

Income besar, biaya hidup di kota ‘kecil sedikit (sebenarnya enak kan?).

Cuma, ada satu sisi yang kadang menimbulkan rasa ‘kok jadi jago kandang ya…!.

Melihat teman2 yang lain kelihatannya enak bisa bekerja di kota besar (Jakarta ‘n Surabaya), meskipun kadang mencoba menghibur diri sendiri dengan mengatakan ‘kerja dikota besar juga belum tentu gaji besar, kalau katakanlah gaji besar, bukankah biaya hidup di kota besar juga tinggi, betul tidak?.

 

Jadi,…….!

Kategori