Oleh: Lukman, Arek Jombang | 11 Desember 2007

Kuantitas vs Kualitas

Saya ambil contoh musisi besar dunia, Elvis Presley. Elvis Aaron Presley (yang kemudian akrab dengan Elvis Presley), lahir pada tanggal 8 Januari 1935 di East Tupelo, Mississippi, dari pasangan Vernon dan Gladys Love Smith (kedua – duanya saya nggak kenal tuh, soale kalo’ Elvis, Saya kan dah kenalan waktu Elvis manggung bareng ma Inul ‘ratu ngebor di pantai ria kenjeran….! Heh, maksudnya…..???? C-D, capek deh, hehehe…).

Yang saya tahu, Elvis sendiri tumbuh besar di Memphis, Tennessee dan mulai bermain gitar, dan bermain di beberapa acara di pusat-pusat perbelanjaan (emang hari gitu dah ada mall…?, mungkin semacam pasar gitu kali ya…? Au’ah gelap…!). Dan tau ga’ sih, saat duduk di bangku sekolah menengah, ia bekerja menjadi supir truk bagi sebuah perusahaan listrik (jangan dibayangkan truk waktu itu, sama dengan truk jaman sekarang….!,trus kayak apa dong truknya…, aq juga ga’ tau, secara tahun 1935, Saya kan belum lahir… Jangankan Saya, ibu aja belum lahir).

Siapapun tau, Penyanyi rock ‘n’ roll legendaris Amerika Serikat yang satu ini (dari mata pandang saya sebagai orang muda – masih 17 tahun bo’, …. Tuh kan gak percaya…!) memang luar biasa, bayangin nggak cuma di Amrik aja, bahkan sampai keseluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia….., bahkan seorang penyanyi dangdut kenamaan tanah air seperti A. Rafiq-pun men’duplicate gaya Elvis mulai dari ujung rambut pe’ ujung kaki.

Sampai Elvis meninggal dunia pun, pada tanggal 16 Agustus 1977 pun, mulai dari gaya sampai karya seninya (musik, film dll)… oh ya, deretan wanita ‘pendamping-nya pun selalu bikin dunia (termasuk Indonesia) heboh.

Pertanyaannya (eh, kayak tes aja, hehe…):

Dari tahun ke tahun, kenapa mulai dari style ato gaya pe’ musik-nya Elvis begitu melegenda, bukan hanya di negara kelahirannya, Amrik, tapi juga diseluruh dunia (termasuk Indonesia) ?

Tapi penyanyi2 Indonesia sekarang, karya musik (lagunya) seiring begitu cepat populernya sebuah lagu, kenapa begitu cepat juga ‘hilang dari ingatan penikmat musik Indonesia ?. Ini karena terlalu banyaknya karya musik (lagu) ato emang karena mutu dari karya musik itu sendiri yang ‘standart aja ?.

Dengan kata lain, kuantitas sebuah karya musik (lagu) apa bisa jadi alasan baik tidaknya kualitas sebuah karya musik (lagu) itu sendiri ?

Yaaach……., Saya berharap satu, dua, sepuluh tahun atau bahkan beberapa taun kedepan (tapi jangan lama2, keburu saya dipanggil ma Dia), ada musisi yang lahir dan besar di Mojojejer Mojowarno ato Peterongan Jombang ato dari belahan Indonesia yang lain, karya musik (lagunya) bisa terkenal atau bahkan me’legenda sampai di Winnipack Kanada, di Mainz Germany, di Seattle Amrik dan dimana2 diseluruh penjuru dunia……

Who knows…., everything is possible, that’s right….?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: