Oleh: Lukman, Arek Jombang | 15 September 2008

Puasa Ramadhan, apa yang kita dapat..?!

Puasa di bulan Romadlon, apa yang didapat?. Banyak, tergantung dari niatan dan dari sisi mana kita memandang manfaat dari puasa yang telah kita kerjakan?.

Sekedar gugur kewajiban sajakah?, sekedar agar mendapat nilai bagus dari guru kitakah?, sekedar ’latah tradisi’ sajakah?, karena kita hanya takut kepada orang tua kita yang dari dulu menanamkan kita akan tradisi ’wajib’ berpuasa Romadlon?, mungkin juga untuk mendapat ketentraman, kedamaian dan kelembutan hati dengan berpuasa?, ataukah memang betul-betul ingin mendapat ridlo-Nya agar kita menjadi manusia yang bertaqwa, menjalankan kewajiban dan menjauhi segala larangan-Nya dengan berpuasa di bulan Romadlon, seperti kaum-kaum terdahulu?.

Kalimat terakhir, sangat sulit dan susah memang dalam menjalankan dan mejauhi larangan-Nya. Jangankan membuang jauh-jauh segala larangan, kita pun kadang tidak mampu melawan, saat ’dia’ mendekat ke kita. Sering kita dengar istilah-istilah : ’Puasa jalan maksiat jalan’, ’puasa kan bulannya saja’, ’puasa sudah sholat belum’ dan lain sebagainya… Seorang ustadz mengibaratkan orang yang berpuasa, tapi sholat kadang masih belum sempurna atau hal-hal yang buruk masih dikerjakan di bulan puasa, dengan kalimat ’kita ini sudah mamakai baju, tapi kita belum memakai celana alias telanjang’. Apakah kita seperti itu?, atau mungkinkah kita belum memperoleh hakikat ’suci’ untuk mencapai ’fitrah’ dihari kemenangan ’idul fitri’ nanti, dari kata-kata yang sering kita dengar atau lihat : bulan suci Romadlon.

Ada hal yang patut kita renungkan juga. Adakah kelembutan muncul di dalam hati kita?. Seperti apakah hati kita?.

”Ada seorang pengusaha muda yang amat taat menjalani kehidupan dengan melaksanakan perintah-perintah agama. Di sore hari, dia keluar dari kantornya, sesaat untuk sebuah kepentingan kecil. Tiba-tiba di depan kantornya ada seorang pengemis tua. Dan pengemis tua itu mengatakan, ”Tuan kasihanilah saya, berilah saya sepotong makanan atau sekeping uang tuan,” pinta sang pengemis. Sang Pengusaha yang dipanggil tuan itu lalu merogoh sakunya, ’barangkali’ ada uang atau sepotong makanan di saku, karena dia memang keluar untuk kepentingan kecil. Tapi, setelah dia merogoh tidak menemukan apa-apa, maka sang pengusaha itu kemudian berkata, ”Aduh mohon maaf saudaraku, mohon maaf hari ini saya tidak bisa memberimu apa-apa.” Lalu pengemis itu berkata, ”Tuan, itu sudah cukup tuan.” Tentu saja sang pengusaha itu kaget, karena dia merasa belum memberi apa-apa, tetapi sang pengemis kemudian mengatakan, ”Tuan itu sudah cukup.” Ketika ditanya, ”Mengapa engkau mengatakan sudah cukup?”, Pengemis tua itu mengatakan, ”Tuan, seharian saya mengemis di depan kantor tuan ini, tapi hanya tuanlah yang mau memanggil dan menghargai saya dengan panggilan saudaraku.”

Di bulan puasa Romadlon, adakah kita semakin lembut? Adakah kita semakin dekat dengan sesama?.

Tanya kenapa????


Responses

  1. Great article Luk.. jadi trenyuh aku…🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: