Oleh: Lukman, Arek Jombang | 17 Februari 2010

DAB – Digital Audio Broadcasting (3-habis)

Istilah DAB – Digital Audio Broadcasting termasuk teknologi audio broadcasting digital, yang dirancang pada akhir tahun 1980 oleh konsorsium penyiaran di Eropa. DAB merupakan sistem penyiaran radio digital dengan melalui aplikasi multiplexing dan teknik kompresi, menggabungkan sejumlah audio/data stream kedalam satu kanal broadcast yang selanjutnya disebut sebagai DAB MUX (Multiplexer). Setiap station menempati slot di multiplexer dengan bit rate yang sama atau berbeda sesuai kebutuhan. Jumlah content pada sebuah DAB multiplex dapat bertambah dengan menurunkan bit rate rata-rata, tetapi tentunya akan menurunkan kualitas streamingnya. Sekedar diketahui, pada tahun 1987 lahir project Eureka-147, standard DAB pertama yang ditentukan pada tahun 1993, dan pada tahun 1995 ETSI mengadopsi hanya satu-satunya standart di Eropa utuk radio digital.
Ada banyak alasan sebenarnya, mengapa harus memilih radio digital. Pertama, estimasinya pada tahun 2020-an, FM analog yang hanya berperan sebagai pemancar 1 content akan ditinggalkan. Kedua, penerimaan radio digital lebih baik (utamanya untuk di mobil dengan kecepatan 300 km/jam, sehingga tahan terhadap gangguan multipath. Ketiga, kualitas audio dari radio digital yang cukup baik mendekati kualitas CD. Keempat, dengan menggunakan radio digital, akan memiliki servise tambahan transmisi data, berupa informasi perjalanan dan lalu lintas, EPG, runing text dan sebagainya. Kelima, dengan daya transmitter yang sama, radio digital mempunyai coverage yang lebih luas dibanding FM analog (mencapai 300 kilometer). Keenam, efisien dalam penggunaan spektrum frekuensi, sehingga tidak akan ada lagi surplus demand IPP. Dan ketujuh, pemakaian daya transmiter yang sangat rendah, untuk rasio konten per infrastruktur atau power consumption lebih rendah.
Saya tekankan lagi, ada banyak variabel & faktor yang sepertinya ‘mengharuskan’ kita untuk tetap bisa eksis di siaran radio. Era digitalisasi radio, sekali lagi sebuah ancaman buat radio atau suatu peluang yang dapat dimanfaatkan?.


Responses

  1. Mantap mas. Saya teknisi radio di Solok (bukan solo), Sumbar. Apa pemancarnya digital sudah ada yang ngebedah? saya pengen mempelajari cara membuatnya. kalo ada link…..

  2. facebook


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: