Oleh: Lukman, Arek Jombang | 2 Juli 2010

30 tahun sudah diriku…

1 Juli 2010…, 30 tahun silam, aku terlahir di sebuah desa di kabupaten Jombang, tepatnya di desa Mojojejer kecamatan Mojowarno. Terlahir sebagai anak petani desa yang belatar belakang agama Islam yang begitu kental, meski saat usiaku hampir 7 tahun, Bapakku meninggal dunia karena sakit setelah lama di rawat di RS Karamenjangan (RS dr. Sutomo Surabaya). Aku tumbuh dengan didikan dari Ibu dan ke 6 kakakku tersayang. Tanpa masuk TK, aku langsung sekolah di MI Al-Ma’unah (setingkat SD), kemudian masuk ke SMP Negeri 1 Mojowarno dan bisa masuk ke SMA favorit di Jombang, SMA Negeri 2 Jombang (dulunya -SMPP- kalau tidak salah, mohon koreksinya), meski sebelumnya saya daftar di SMA BPPT Darul Ulum di Peterongan, tapi tidak lolos. Selepas lulus SMA, berniat ingin kuliah tapi ternyata lewat UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), saya tidak lolos (karena salah ambil strategi & salah baca peluang saja kali ya…?). Sayapun juga mencoba masuk lewat Poltek, tapi tes & tes tetap tidak lolos. Sampai pada akhirnya, aku berfikir “sudahlah…, mungkin sudah takdir untuk aku tidak kuliah..”.
Selepas itu, aku pun bantu-bantu kakakku untuk berdagang di pasar tradisional & kecil (Pasar Rejosari Gondek Mojowarno) kebetulan punya 2 stand disana. Sampai akhirnya aku baca di Jawa Pos ada info pendidikan non formal untuk menjadi Presenter TV, Cameramen TV & Penyiar Radio bernama “Centris Broadcasting School, milik JPEC – Jawa Pos Education Centre. Aku ambil Penyiar Radio. Pengajarnya waktu itu Pak Errol Jonathans, Pak Wolly Bachtiono, Mas Yoyong Burhanuddin dan Mas Didi Adhiyaksa. Dan study ke SCFM, Istara FM, Metro FM dan Colors Radio. Saat itu yang ada di fikiranku “ikut ah…”. Aku pun mencoba ‘ngomong’ ke ibuku. Tau apa kata ibuku “kok penyiar…??, opo iso dadi kerjoan se Luk..??”. Tapi aku tetap berusaha menyakinkan Ibu & syukurnya kakak2ku mendukung. Hingga akhirnya, aku dikasih sejumlah uang oleh kakakku untuk daftar. Berangkatlah aku ke Surabaya… Dan selama di Surabaya, kadang aku Jombang-Surabaya PP, meski malam bahkan dinihari naik bis, sampai Mojoagung naik ojek. Beberapa hari sempat juga tinggal di rumah teman di Kupang Krajan.
Well.., abis selesai pendidikan non formal itu. Coba masukin lamaran ke Radio Citra Jombang, sudah masuk meski akhirnya tidak lolos. Lanjut ke Radio Sigma Pare Kediri, alasannya belum membutuhkan penyiar. Berangkatlah aku ke Radio Gitanada (sekarang Gita FM Jombang). Gitanada, sebuah radio full dangdut (waktu itu) yang kebetulan juga salah satu kakakku menjadi fans-nya disitu pun aku masuki. Justru di sinilah yang menggelikan. Kakakku bilang “Luk, setelanmu lagu-lagu barat, tiba’e malah dadi penyiar dangdut, hahaha…”. Bulan Juli tahun 2000 aku sudah bersiaran di Radio Gitanada. Bertemu & berinteraksi dengan banyak orang. Mulai dari Direksi & Karyawan. Bu An, Mas Anang, Mbak Sinta, Mbak Viana, Mbak Tyas, Udin, Asep, Yudi, Andre, Pak Barbel & Pak satpam satunya -aku lupa-, aku merindukan kebersamaan bersama kalian semua dan terima kasih.
Hampir 2 tahun di Radio Gitanada, aku mencoba ke Radio Wijangsongko FM Kediri. Meski belum sampai bersiaran / mengudara di RWS, aku sempat di training oleh Mas Didik. Pada Pak Pintero, Pak Dodik…, terima kasih kesempatannya. Lepas dari RWS, atas saran kakakku di Jombang, aku disarankan melamar di radio baru di Jombang, Radio Kartika Jombang. Singkat cerita, setelah masukin lamaran di Kartika FM Jombang, aku dapat surat panggilan dan ternyata aku harus ke Tulungagung – Perkasa FM untuk tes dan ke Patria FM – Blitar, untuk training. Dan akupun baru tahu, kalau ternyata Radio Kartika salah satu anggota jaringan Mayangkara Radio Group yang berpusat di Blitar. Termasuk Radio Patria yang sekarang saya tempati.
Di Radio Patria, aku training bersama Kaka – teman cewek dari Bareng Ngoro Jombang. Hi, Vanka..!!. Together with you will not be forgotten, sista…!!. Dari nama Lukman Hakim pun berubah jadi Dhany Julian, untuk dapat mengudara. Akupun masuk di beberapa divisi di Radio Patria, selain sebagai penyiar. Mulai bagian Iklan, membantu Mbak Iga, menjadi petugas lapangan untuk riset produk. Saat itu, kata Pak Ardi (Direktur Radio Patria), “Dhany aku tunjuk sebagai petugas lapangan yang mengelilingi kota & kabupaten Blitar bertujuan agar kamu tahu seluk beluk Blitar, meski kamu bukan asli Blitar. Dan itu akan menjadi nilai plus kamu sebagai pendatang dalam bersiaran atau bersosialisasi di Blitar”. Dan kata Pak Ardi pun terbukti, banyak teman-teman saya yang asli & hidup lama di Blitar pun, belum tentu tahu letak persisnya beberapa daerah di Blitar apalagi kesana. Itu salah satu, dari sekian banyak pelajaran yang bisa aku petik dari petugas lapangan. 2 tahun berjalan di Radio Patria (2005), akupun masuk ke divisi event / Non air bersama Mas Didun sebagai Event Manager. Banyak pelajaran yang aku dapat. Mulai dari pengajuan & laporan event, perijinan dan berhubungan dengan beberapa ‘supported team’ dari luar Radio Patria dan lain sebagainya. Well…, networking yang harus selalu dijaga. Lebih dari setahun sebagai Staf Event, akupun diperbantukan di News Department / Ke-redaksi-an sebagai staf redaksi untuk men-support tugas-tugas Mbak Dewi sebagai Redaksi Patria FM. Kalau yang disini, oleh Pak Ardi aku di bilangin “Dhany aku perbantukan di redaksi, agar dalam bersiaran dhany lebih ‘berisi’ dan ‘Looks smart’. Karena dengan di redaksi, Dhany akan terus meng-update dan meng-upgrade informasi, wawasan dan isyu yang berkembang saat ini dan yang akan datang”. Dan itu memang terbukti, karena aku ‘diharuskan’ untuk terus mengasah, updating informasi & wawasan yang dapat saya peroleh. Tidak hanya sebagai Staf Redaksi, aku juga harus meng-entry dan meng-analisa data riset produk dari laporan yang bertugas di lapangan, sampai sekarang. Dulunya petugas lapangan, sekarang sebagai petugas peng-entry-nya.
Sangat banyak hal sudah saya peroleh dari Radio Patria, dan yang akan saya peroleh kedepannya, dimana Radio Patria tidak hanya berbicara sebuah radio, melainkan sebuah media yang multi dimensi / multi media. Tentu ucapan terima kasih saya ucapkan pada Bu Veni Budiarsih, Pak Lazuardi Ardiman, Pak Dewa Sulistya dan teman-teman di Radio Patria untuk dukungan, pengalaman dan ‘didikan’nya sampai saat ini. Dan permohonan ma’af tentu juga saya sampaikan untuk segala khilaf dan hal-hal yang kurang berkenan selama 7 tahun.
Ibuku yang berada di Jombang, I love You so much…, Love, Love You Mom…. Terima kasih dan ‘sungkem’ ku aku haturkan buat Ibu. “Tak terasa Mak…, sudah 30 tahu… sampai saat ini aku masih belum bisa membahagiakan emak. Aku sayang & cinta banget ma emak…”. Juga buat Bapak yang tenang di sisi-Nya, aku sangat, sangat merindukanmu Bapak… Jangankan memeluk, untuk memanggil Bapak saja saya belum membekas betul atau teringat betul hadirnya Bapak bersamaku saat aku masih sangat kecil. Semoga Alloh memberikan tempat yang layak buat Bapakku sayang, segala dosa diampuni dan segala amal bajiknya diterima oleh-Nya, Amin…
Guys, teman, kawan, sobat gita, Warga Patria, Tweeps , Facebookers dan WordPressers…, makasih sudah mau tahu, kenal, akrab, berteman, membantu & menemani saya selama ini.

30 tahun sudah diriku…..


Responses

  1. Cerita yg penuh inspiratif tuk dpat diambil hikmahx,,,,

  2. @Ika : Terima kasih, Ika. Amin, semoga ada manfaatnya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: