Oleh: Lukman, Arek Jombang | 17 Maret 2011

Teknologi Merubah Cara Berbisnis. [Tren Konsumen Sekarang : Instrumented, Interconnected dan Intelligent]

Memasuki era online, pencapaian sesuatu sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi, karena teknologi adalah mesin pendukung atau bahkan bisa jadi mesin penggerak pertumbuhan sebuah usaha. Oleh sebab itu, kita tidak bisa menafikan masalah teknologi, menginventarisasi yang kita miliki, memperkirakan apa yang ingin kita capai dan bagaimana caranya memperoleh teknologi yang kita perlukan itu, serta mengamati betapa besar dampaknya terhadap transformasi usaha kita.

Sebagian dari kita beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. Padahal, kalau kita membaca sejarah, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer, dimana setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.

Teknologi merupakan perkembangan suatu media atau alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien, guna memproses serta mengendalikan suatu keadaan atau bahkan masalah. Dan teknologi sebagai pendukung atau penggerak sebuah usaha bisa juga kita katakan sebagai sebuah solusi.

Teknologi telah mengubah cara berbisnis di semua sektor industri, tak terkecuali sektor ritel. Perubahannya boleh dibilang cukup drastis. Dengan adanya teknologi informasi (TI), konsumen jadi makin kaya informasi, lebih berdaya dan makin menuntut. Alasannya, karena dengan perangkat TI yang dimiliki (mulai dari Internet, smartphone, komputer tablet dan sebagainya) mereka dengan mudah dapat mengakses ke sumber informasi.

Dengan pengetahuan di tangan yang dikumpulkan dari banyak sumber, mereka hanya mau menghabiskan uang untuk belanja barang atau jasa yang mereka anggap paling bernilai dan menetapkan bagaimana mereka ingin ‘engage’ dengan peritel. Mereka ingin berinteraksi dengan cara yang relevan dan waktu yang tepat. Artinya, relevan dengan apa pun yang mereka belanjakan, termasuk di mana, kapan dan bagaimana berbelanja. Juga, waktunya tepat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Singkatnya, “Konsumen sekarang lebih cerdas,” kata Raymond Moy, Manajer IBM ASEAN General Business, Bidang Industri dan Distribusi. Konsumen seperti ini lanjutnya, tahu apa yang diinginkan ketika mereka pergi berbelanja dan berharap didengarkan keinginannya memperoleh promosi yang personal ataupun terlibat menciptakan sesuatu secara bersama-sama (co-create) dengan peritel.

Apa yang disampaikan Raymond itu berdasarkan survei yang dilakukan The IBM Institute for Business Value, yang melibatkan 32.087 responden di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Brasil, Cina dan India pada Oktober 2009.

Dari hasil survei tersebut terungkap, konsumen sekarang memiliki akses untuk memperoleh informasi dalam jumlah yang sangat besar tentang peritel dan produk mereka melalui teknologi baru. Mereka menggunakan informasi itu untuk berbelanja secara lebih hati-hati. Sekitar 41% responden yang disurvei telah beralih dari satu ritel utama (primer) ke yang lainnya dan mulai membeli beberapa barang dari peritel sekunder. Mereka pun memiliki ekspektasi lebih tinggi. Kemudian, yang paling disukai konsumen adalah promosi yang personal dan ketersediaan produk yang konsisten. Sebagai tambahan, mereka menginginkan nilai, kualitas dan keberagaman produk yang lebih baik.

Guys, yang lebih mengejutkan lagi, mereka juga banyak yang memanfaatkan jejaring sosial. Sebanyak 33% responden mem-follow (istilah untuk pengguna Twitter) peritel di situs jejaring sosial. Beberapa dari mereka pun bertukar catatan atau notes, sehingga pengalaman berbelanja seorang konsumen dapat memengaruhi banyak orang lainnya untuk menentukan tentang apa yang mereka beli dan di mana membelinya. Yang menarik, sebanyak 78% responden akan dengan senang hati berkolaborasi dengan peritel dalam merancang produk dan layanan baru yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Fakta lainnya yang didapat dari survei tersebut, sebanyak 62% responden ingin menggunakan mobile phone mereka untuk berbelanja dan membeli produk yang diiklankan di majalah atau di billboard dengan mengirimkan teks. Demikian pula, 64% responden ingin menggunakan TV digital untuk berbelanja dan membeli produk yang diiklankan di TV dengan hanya menekan tombol di remote control mereka. Kemudian, 61% siap menghabiskan lebih banyak uang di peritel yang mengimplementasi masukan dari mereka.

Sementara itu, masih menurut survei ini, responden generasi Y (yang berusia 20-30 tahun) yang paling ingin menggunakan beragam teknologi dan saluran alternatif. Mereka juga paling senang mem-follow peritel melalui media sosial.

Berangkat dari fenomena tersebut, menurut Raymond, IBM menyimpulkan bahwa tren konsumen sekarang adalah : instrumented, interconnected dan intelligent. Disebut instrumented karena konsumen ingin berbelanja dengan beragam teknologi. Mereka memiliki akses yang instan ke informasi tentang peritel, produk dan pengalaman konsumen lain melalui teknologi. Interconnected karena konsumen telah tersambung dengan konsumen lainnya ataupun peritel. Mereka menggunakan beragam teknologi untuk saling berinteraksi. Intelligent karena konsumen tahu apa yang mereka inginkan. Mereka secara jelas telah mendefenisikan tentang harapan mereka dari peritel saat ini ataupun di masa mendatang.

Menurut Raymond, tren konsumen di kawasan ASEAN termasuk di Indonesia, juga mengarah ke sana, terutama konsumen kelas menengah keatas yang berbelanja produk premium. Raymond mengaku, saat ini IBM tengah menangani implementasi teknologi di perusahaan ritel yang menjajakan produk untuk kalangan menengah keatas. Namun, ia menegaskan lagi, semua peritel akan menghadapi perilaku konsumen yang telah berubah itu.

Untuk sukses di masa depan menurut Raymond, peritel harus mengikuti tren tersebut. Mereka harus mengonsolidasikan infrastrukturnya untuk menjamin informasi yang mereka berikan itu akurat dan meresap, serta produk yang mereka jual tersedia secara konsisten. Mereka juga harus mengoptimalkan penggunaan kanal yang disukai oleh konsumen yang lebih cerdas ini, menyediakan fitur dan fungsi yang lebih disukai konsumen, serta menggunakan perangkat analitis untuk mengembangkan penawaran dan pengalaman yang personal.

Jangan sampai juga, informasi yang anda sampaikan salah atau kurang tepat untuk ‘disiarkan’ (lewat website, jejaring sosial dll). Seperti yang saya kutip dari tweet-nya Pak Hermawan Kartajaya –Guruh Marketing Dunia–, “Lesson from New Wave Marketing: Your Customers will easily broadcast wrong info about you and they don’t want want to make correction”. Think..!!

Selamat datang “Konsumen yang lebih cerdas”…!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: